karangasri.desa.id 24/9/26| Apa yang terlintas ketika mendengar kata Ngawi? Sebuah kabupaten di Jawa Timur, tentu. Kota kecil di pertemuan Bengawan Solo dan Bengawan Madiun, jalur yang sejak dahulu menghubungkan Jawa bagian timur dan barat. Tetapi ternyata Ngawi bukan hanya milik Indonesia.
Di belahan dunia yang lain, di pesisir sebuah wilayah Selandia Baru, terdapat sebuah permukiman kecil bernama Ngāwī. Jaraknya ribuan kilometer dari Jawa. Tidak ada hubungan sejarah yang diketahui antara keduanya. Namun namanya nyaris sama.
Kebetulan? Sangat mungkin. Tetapi dari kebetulan itulah kita bisa melihat bagaimana manusia memberi nama kepada tempat yang mereka tinggali.
Ngāwī Selandia Baru berada di Palliser Bay, wilayah South Wairarapa. Ia bukan kota besar, melainkan sebuah permukiman nelayan. Perahu-perahu nelayan di sana bahkan ditarik ke daratan menggunakan trailer dan bulldozer karena tidak tersedia pelabuhan. Te Ara – Encyclopedia of New Zealand mencatat Ngāwī sebagai permukiman nelayan kecil di kawasan tersebut.
Nama Ngāwī berasal dari bahasa Māori. Dalam daftar nama tempat Māori yang disusun oleh Kementerian Kebudayaan dan Warisan Selandia Baru, Ngāwī dijelaskan berkaitan dengan ngā dan wī, yakni “rumput tussock asli”. Nama itu, dengan demikian, berhubungan dengan tumbuhan yang menjadi bagian dari lanskap setempat.
Bukan kebetulan pula jika nama tersebut telah lama hidup sebelum Ngāwī menjadi permukiman nelayan sebagaimana dikenal sekarang. Kawasan Palliser Bay mempunyai jejak hunian masyarakat Māori dan aktivitas manusia yang telah berlangsung selama berabad-abad. Nama tempat menjadi bagian dari ingatan masyarakat terhadap lingkungan tempat mereka hidup.
Di Jawa Timur, kita menemukan cerita yang berbeda tetapi mempunyai pola yang mirip. Pemerintah Kabupaten Ngawi menjelaskan bahwa nama Ngawi berasal dari kata awi, yang berarti bambu, kemudian mendapat tambahan bunyi sengau “ng”. Penjelasan itu dikaitkan dengan keadaan lingkungan di sekitar Bengawan Solo dan Bengawan Madiun yang dahulu banyak ditumbuhi bambu.
Nama dan keberadaan Ngawi dikaitkan dengan Prasasti Canggu, prasasti zaman Majapahit bertarikh 1280 Saka atau tahun 1358 Masehi. Berdasarkan penelitian yang menjadi dasar penetapan hari jadi, Ngawi pada masa pemerintahan Hayam Wuruk tercatat sebagai salah satu daerah swatantra. Pemerintah Kabupaten Ngawi kemudian menetapkan 7 Juli 1358 sebagai hari jadi Ngawi.
Di sini kita mendapatkan gambaran yang menarik. Ngawi bukan sekadar tempat yang kebetulan tumbuh di pinggir sungai. Posisi sungainya menjadikannya penting dalam lalu lintas manusia dan barang. Sungai pada masa lalu bukan hanya batas wilayah, melainkan jalan raya. Penyeberangan sungai merupakan infrastruktur penting bagi kerajaan dan masyarakat.
Karena itu, sejarah Ngawi dapat dibaca dari dua arah: dari alam dan dari mobilitas manusia. Dari alam, lahirlah cerita tentang awi atau bambu yang tumbuh di sekitar sungai. Dari mobilitas, muncul kedudukan Ngawi sebagai kawasan yang berkaitan dengan penyeberangan dan jaringan sungai pada masa Majapahit.
Sementara itu, di Selandia Baru, Ngāwī juga memperlihatkan hubungan erat antara nama dan lanskap. Masyarakat Māori memberi nama tempat dengan merujuk pada tumbuhan yang mereka kenali. Dua masyarakat yang tidak memiliki hubungan sejarah langsung ternyata melakukan hal yang serupa, yakni menjadikan alam sebagai sumber penamaan.
Maka, apakah Ngawi Jawa dan Ngāwī Selandia Baru bersaudara? Tidak ada bukti yang menunjukkan demikian. Kemiripan bunyi itu lebih masuk akal dipahami sebagai kebetulan linguistik. Bahasa Jawa dan bahasa Māori berasal dari lingkungan sejarah yang berbeda. Struktur kata keduanya pun berbeda. Ngāwī adalah bentuk dalam bahasa Māori, sedangkan Ngawi dalam bahasa Jawa memiliki penjelasan etimologis lokal yang menghubungkannya dengan awi atau bambu.
Tetapi justru di situlah keindahannya. Dua tempat yang terpisah oleh lautan dan jarak ribuan kilometer ternyata menyimpan cara berpikir yang serupa. Manusia melihat alam, mengenalinya, lalu memberinya nama. Tumbuhan menjadi penanda ruang. Nama kemudian diwariskan dari generasi ke generasi hingga menjadi bagian dari identitas.
Nama tempat dengan demikian bukan sekadar tulisan di papan jalan atau titik di Google Maps. Ia adalah arsip yang hidup. Ngawi Jawa menyimpan ingatan tentang sungai, bambu, penyeberangan, dan perjalanan panjang sejarah Jawa. Ngāwī di Selandia Baru menyimpan ingatan tentang lanskap, rumput tussock, kehidupan masyarakat Māori dan tradisi nelayan di Palliser Bay.
Dua Ngawi itu tidak perlu mempunyai hubungan darah untuk memiliki cerita yang sama-sama menarik. Sebelum manusia membuat peta, mereka lebih dahulu memberi nama kepada tanah yang mereka kenal. Dan terkadang, di dua ujung dunia yang tidak saling mengenal, lahirlah dua nama yang terdengar hampir sama. Ngawi dan Ngāwī. Dua nama. Dua bahasa. Dua sejarah.
Ditulis oleh Wurianto Saksomo, warga Desa Karangasri Ngawi.